Naik Angkot

-Preambul-

-Sebelum membaca tulisan ini, sebaiknya kalian menetapkan hati dulu. Tulisan ini panjang dan butuh kesabaran untuk membacanya. Beberapa bagian ditulis berlebihan dan pelajaran yang bisa diambil juga hampir-hampir tidak ada.Tidak dianjurkan membca tulisan ini jika kalian sedang galau, atau sedang sibuk. Bacalah tulisan ini kietika kalian sedang tidak punya kegiatan .-

Jakarta dimusim hujan akan menjadi lebih bau. Setidaknya jakarta yang gw tahu ,kemarin sewaktu pulang ngajar privat terutama,. Bau berubah-ubah sesuai daerah yang dilalui angkot. Angkot itu trayeknya pulogadung-cakung. Gw penumapang ketiga di angkot itu. Gw duduk di kursi sebelah kiri, bagian paling belakang. Sebangku dengan gw ada ibu-ibu, sepertinya baru punya anak satu. Dia membawa tas warna merah muda dengan ornamen manik-manik mutiara imitasi di talinya. Dia duduk di bagian paling dekat dengan pintu. Malahan sepertinya bisa dikatakan dia sedikit menghalangi penumpang baru yang mau masuk. Di kursi sebelah kanan ada seorang cewek, sangat muda, kelihatannya masih kelas satu SMA. Dia memakai jilbab putih, baju putih, rok putih dan mukanya juga teerlihat sedikit keputih-putihan, panik, takut atau semacamnya lah. Tapi sedikit ya, gw bilang cuma sedikit. Cewek ini sibuk dengan BB-nya.

Bapak supir angkot dengan betahnya nge-tem ditengah terminal yang sebernnya sudah agak sepi. Waktu itu kira-kira jam setengah sepuluh malam. nggak heran kalau cewek putih-putih tadi mukanya agak panik. Mungkin dia takut kemaleman, atau takut kalau terjadi tindakan kriminal. Padahal dia seharusnya bisa sedikit tenang, kan ada aa’ yang duduk di pojok nih. hahahha

Nggak-nggak, bukan kearah situ kok cerita ini. kalian semua tentu tidak berharap tulisan dengan judul naik angkot ini akan berinti pada cerita romansa kegalau-galuan antara aa’ tadi sama gadis putih-putih kan? untungnya memang enggak kok. Tenang saja.

setelah kira-kira 10 menit ngetem, ada penumpang baru. Sebelum naik dia sempat tanya supir apakah angkotnya lewat JGC atau tidak. Dia ini cowok yang kira-kira semuran dengan gw. Mukanya apa boleh dikata, jawa banget. Perawakanya kurus membawa tas punggung dengan isi yang tidak terlalu penuh tapi sepertinya cukup banyak isinya. Tatapannya seperti orang baru sampai dijakarta. Melihat dia sempat tanya alamat JGC, gw pikir dia dari kampungnya mau kerja di JGC. Mungkin dia sudah punya teman yang juga kerja disana. Temannya mungkin menawarkan lowongan. Dalam hal ini gw pikir dia kayak gw dulu, bocah lugu. Seriously, gw dulu lugu. Sekarang juga masih tetep.

Supir angkot ini mulai membuat gw fed-up. Betahnya ngetem. Padalah seperti yang gw bilang tadi, jakarta itu makin bau kalau musim hujan. Apalagi ini terminal. Hari biasa saja bau. Bau besi besi tua dari angkot, metro mini, dan bus bus lainya yang tambah karatan karena hujan. Bau asap pembakaran yang mungkin makin tidak sempurna karena kendaraannya habis kebanjiran. Bua bau ini tanpa sopan santun nyelonong membuat pusing saraf saraf kecerdasan otak. Belum lagi udara sumpek didalam angkot menambah ketidaknyamanan duduk berlama lama di angkutan ini. Yang lebih membuat emosi, pak supir kayaknya benar-benar belum ada niatan menyudahi harapannya menunggu penumpang di terminal itu. Tapi emosi gw bisa gw kendalikan. Mengingat bapak supir juga memang butuh penumpang banyak biar anaknya punya sepatu baru, atau buat istrinya beli kol dan sawi.

Angkot akhirnya jalan juga. Sesaat setelah keluar terminal langsung dapat satu penumpang baru. Ini sebenarnya gw agak gak suka. Penumpang nuggu angkot didepan terminal. Ini bikin macet. Alasan mereka-mereka ini berharap dapat menghindari angkot yang ngetem di dalam terminal. Padalah perbuatan mereka berpotensi menimbulkan kemacetan. Angkot jadi harus berhenti di bibir terminal yang berarti menambah ruwet saja hiruk pikuk keluar masuk angkutan ke terminal. Gw pikir orang-orang macam ini cukup egois. Padahal jika semua penumpang naik didalam terminal, angkot juga akan cepat jalan. Belum lagi orang-orang macam ini pasti akan ketinggalan pelajaran tentang perilaki memahami sepatu baru anak dan kol sawi sang istri supir. Ah sayang sekali. Padahal itu pelajaran moral penting yang belum tentu dipahami pas SMA. Akhirnya angkot sudah meninggalkan terminal. Ucapkan selamat tinggal bau besi tua, tapi belum untuk bau asap.

Didepan PTC, supir panen. dia dapat lima penumpang baru. Ada penumpang baru yang cukup banyak mau masuk tidak lantas membuat ibu tas merah muda bergeser. Dia tetap saja happy bercokol di bibir pintu. Menyusahkan penumpang masuk. Dalam Hal ini gw bukan menghakimi ibu tadi, tapi menurut data statistik gw , hal semacam ini memang sudah menjadi salah satu tabiat menjengkelkan penumpang jenis ibu ibu. Gw bilang salah satu karena ada satu lagi tabiat menjengkelkan yang teramati oleh gw. nanti gw ceritain lagi yang kedua. Penumpang baru tadi semuanya cowok dan jawa semua. Mereka ini sekelompokan sahabat kepompong habis belanja di ramayana. Masing-maisng dari mereka membawa bungkusan plastik kecil. Gw tebak itu mungkin isinya kaos baru, kemeja baru, atau jeans baru. Biasa habis gajian. wajar.

Gw pikir mereka juga sama seperti cowok yang bawa tas tadi. Mereka perantau. Hanya saja sepertinya mereka sudah agak lama disini. Mereka sudah terlihat terbiasa dengan disini. Itu adalah hal yang ada baiknya dan ada buruknya, “terbiasa”. Orang baru datang akan merasa sumpek, pusing karena bau, stress karena macet, dan emosi karena panas. Tapi lama kelama mereka akan terbiasa. Lihat saja dijalanan yang sumpek itu, ada kendaran macet-macetan, disamping nya ada orang santai makan gorengan, disampingnya lagi  ada orang cukur, disampingnya lagi ada orang tawar menawar jam tangan KW, disampingnya lagi ada ibu-ibu dan anak anaknya santai naik odong-odong, di sampingnya lagi ada yang pacaran ( yang ini pasti bukan gw), disampingnya lagi ada yang sibuk buka facebook, disampingnya lagi ada yang nyanyi, bahkan ada yang berpuisi. Asli gw gak bohong. Itu semua terjadi. Orang kalo sudah terbiasa standarnya akan turun. mereka akan permisif dengan ketidaknyaman, akan lebih parah kalau sampai tahap lupa dengan adanya potensi memperbaiki keadaan.Kan ngeri kalau semua orang gak kepikiran untuk memperbaiki ketidaknyamanan ini. Terminal bau pesing, sudah biasa. Lalu lintas awut awutan wajar, naik odong-odong ditengah kemacetan mengasyikan dll. Mungkin sesekali kita perlu di ingatkan akan hal hal yang sudah menjadi kebiasaan padahal kita bisa lebih baik dari itu, dari kebiasaan kebiasaan kita. Kayak acara metrotv, “melawan lupa”. hahaha

yah, ini belum selesai. Bersabarlah dalam membaca tulisan ini. Sekarang bau yang gw rasakan adalah bau apa gitu yang busuk, kayak comberan. Kalaupun gw menutup mata, gw sudah bisa punya tebakan sekarang angkot sudah sampai mana. Pasara cakung. Itu yang nama nya pasar kalau hujan baunya tambah oke saja. Mungkin sisa-sisa kol gak laku atau sawi atau ayam bercapur jadi satu.Bau memang tidak pernah bohong ( mirip iklan mie instan).

Sahabat kempompong tadi sudah turun di sekitaran trakindo. Semoga kebahagiaan menyertai mereka selalu. Apalagi mereka sudah beli baju baru. Cewek putih-putih tadi dapat telpon. Gw seh menduga itu dari abangnya atau bapaknya, atau ibunya. Dia agak tambah ketakutan. Dia bilang kalau dia sudah diangkot dan minta tolong dijemput. Ah adik perempuan memang begitu. Gw juga punya adik perempuan.cuma satu seh tapi dia bener-bener ajaib. Mulai dari menjengkelkan sampai menggelikan. Tapi bagaimanapun juga adik ,apalagi perempuan, memang wajar untuk dikhawatirkan. That’s the way we love you my sister. we care about you. It would be weird if we didn’t care about you, what your’e doing, who you’re with. where you’re playing at, how you’re life about. Actually, i scared of that white girl either. May she arrived home safely.

Dibawah kolong tol cakung, ibu tas pink tadi turun. Gw pikir ibu ini agak keterlaluan. Tujuanyakan lumayan jauh kenapa dia tadi gak mau geser. Tapi ya sudahlah sekali lagi menurut gw itu sudah jadi tabiatnya. hahah. Dan satu lagi tabiat menjengkelkan. Dari data statistik gw, banyak ibu ibu yang membayar angkot itu kurang. Mereka padahal tahu jumlah yang harus mereka bayar. Tapi mereka itu cerdik. sesaat setelah uangnya di berikan ke tangan supir, dia langsung ambil langkah cepat kabur dari angkot. Tidak peduli, mlengos lurus membelakangi angkot. Supir baru selesai menghitung jumlah bayaranya, ibu ibu sudah terlalau jauh untuk dipanggil. Betapa itu menjengkelkan. Gw tebak mereka tertawa tawa setelah sukses kabur dari jangkauan supir. hahah ( bagian ini kayaknya gw sudah terlalau berlebihan). Tapi memang ya kalau masalah uang terbukti wanita itu lebih sensitif. Gw punya teman yang rela belanja lebih jauh hanya karena beda harga yang tak seberapa, katanlah dua ratus perak. Ada lagi teman gw yang rela beli barang banyak jumlahnya biar dapat diskon. Alasanya ya nanti lama lama kepakai juga.Temen gw ini beli softener dari tahun 2012 belum habis sampai sekarang karena waktu itu dia belinya banyak supaya dapet diskon. What is on ladies mind? we don’t get it.  Makanya gw jarang bilang jujur berapa harga barang yang gw beli. Kalau gw bilang mereka pasti ketawa karena mereka bisa mendapat harga lebih murah. Mungkin para pedagang muak sehingga menjual barangnya lebih murah ke mereka. hahahha ( yang  terakhir ini gw juga sudah berlebihan kayaknya. sorry ladies)

Mendekati tempat tujuan gw, cowok tas punggung tadi tanya ke gw

” mas JGC masih jauh gak”

logat jawanya keluar. Gw bener dia orang jawa. Gw jawab kalau ini sudah dekat.  Gw menawarkan bareng gw saja karena memang gw juga turun disitu. Sebenarnya gw sudah menanti saat saat seperti ini. Bukan-bukan, ini bukan tentang romansa gw dengan cowok ini. Gw udah tobat asli. hahha. Maksud gw begini, Gw hampir selalu mendapatkan jawaban yang baik kalau gw tanya alamat. Gw dulu pertama ke Jakarta, mau cari lokasi kampus gw juga. Ada cewek berjilbab yang gw tanya lokasi kampus gw mau mengantarkan gw ke lokasi kampus gw. Dia ternyata mahasiswa situ juga. Dia bahkan nganterin gw sampik loket pendaftaran ulang mahsiswa baru. Gw masih punya banyak cerita bagus bagus tentang perilaku baik orang jakarta ketika ditanya alamat. Sejak itu gw berharap gw bisa jadi orang yang bisa menjawab pertanyaan alamat dari orang-orang baru macam cowok tadi. Gw tahu perasaan cowok tadi, takut tersesat, khawatir hilang, atau khawatir terhadap tindakan krminal. Jakarta bagi orang luar itu ganas dan tidak beradab ( setidaknya itu yang ada diotak gw dulu). There is still good people here, even many of them.

 Akhirnya angkot sudah sampai di JGC. cowok tadi bayar duluan dengan pecahan 5000. lalu gw bayar degan pecahan 10000 Gw tahu seharusnya cowok tadi dapat kembalian seribu. Gw minta sama supir untuk kasih kembalian ke gw 7000 , supaya gw bisa kasih buat cowok yang tadi seribu. Bapak supir juga baik, sebenarnya pak supir udah mau kasih kembalian tapi cowok tadi keburu pergi. Itu bedanya cowok sama cewek, cewek mlengos kabur kalau bayar kurang. Cowok mlengos kabur kalau bayar lebih. hahaha nggak ding. Ini cuma pemanis tulisan yang kepanjangan. Gw lalu mengejar cowok tadi. Bukan untuk minta pin BB pastinya, tapi untuk kasih kembalianya. Dari situ gw benar lagi, dia memang anak baru yang dapat tawaran kerja di JGC. Gw merasa senang bisa menjawab pertanyaan alamatnya.

Buat mbak-mbak yang dulu nganterin ke depan loket mahasiswa baru

– Terimakasih gw akan teruskan kebaikanmu-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s