Insiden Gerandong

hai brandal ! ktnya u plg y? ntr mlm q jmpt di rmhmu y.kt knvoi tkbran lg. q dah pnya mtr skrng.jd kt g perlu lg naek gerandong sialan itu lg. bls

 

Perasaanku senang bukan maen membaca sms ini. Betapa tidak, slamet ini adalah teman SD-ku dulu. Aku, Zainal dan Slamet adalah tiga brandalan cilik yang selalu berbuat ulah di kampung. Kami ini anak kecil saraf, kurang kerjaan dan kurang ajar juga paling merepotkan orang tua. Kami ini koalisi anak kecil yang suka berulah. mulai dari , nyolong singkong pak jani untuk di bakar di pinggir kali,mangga di kebun pak joar juga tak luput dari aksi kami dan kami juga pernah terbirit-birit karena dikejar pak mudin karena ketangkep basah menjarah timunnya dengan tak ada sopan santun sama sekali.

ah ? senangnya ternyata slamet masih ingat denganku. setelah berpisah, karena aku harus pergi ke kota untuk melanjutkan sekolah, baru kali ini aku akan bertemu dia lagi.kali ini kami akan mengulang lagi kesintingan masa lalu, konvoi takbiran.Aku juga masih ingat aksi aksi yang biasa kami lakukan di bulan puasa.

 “sini biar aku saja, begini saja tidak becus” slamet merebut kembang api dari tanganku. dia ngomel-ngomel melihat ku tak becus melempar kembang api ke pohon akasia di samping masjid almutaqin. Slamte lalu menekuk kawat bagian bawah kembang api, menyalakanya lalu melemparkanya ke dahan akasia. Lantas kembang api nemplok di dahan akasia, menyeruak apinya dan astaga indah sekali.Aku iri dengan slamet yang punya ketrampilan lemparan kembang api dengan akurasi tinggi. lemparanku? ah jangan ditanya. lemparanku lebih sering berakhir di got dari pada di akasia

” nah begini baru bagus ” kata slamet

” iya ya. sombong!” jawabku ketus

” eh tapi si zaenal mana seh. jangan-jangan dia gak berahasil bujuk bapaknya”

Kami lalu duduk di gorong-gorong masjid.menuggu kabar gembira dari zainal. kabar gembira yang akan melancarkan aksi kami selanjutnya, ikut konvoi takbir dengan truk. ini adalah aksi pamungkas kami di bulan puasa. setelah berupa-rupa kesintingan di bulan puasa dari menyabotase takjil bagi para qori yang tadarus di masjid, memukul-mukul beduk saat orang-orang taraweh sampai ngumpetin sandal anaknya pak wo saat traweh sampai dia nangis. Kami ini masih kelas 4 SD. Kami dianggap masih terlalu kecil unutk ikut pawai takbir ini. Bahaya, begitu katanya.Tapi kami tentu brandal yang bayak akal. Pokonya kami harus ikut. apalagi ini pertama kalinya masjid kami pawai dengan truk. Biasanya hanya di masjid saja. Karena keterbatasan dana kami tak bisa ikut pawai dengan truk padahal sering kali ini menjadi ajang gengsi-gengsian antar masjid.

Zainal nampak berlai-lari kecil kearah kami?

” gimana nal? ” tanya slamet

“iya , boleh kata bapak. tapo disuruh hati-hati “

Zainal ini peranya dalam kongsi kami adalah sebagai pelanjar aksi aksi kami. termasuk kali ini. masjid almutaqin akan menyewa gerandong, truk bapak nya zaenal. makanya kami mengupayakan sedikit cara nepotisme. ya benar sekali, Truk bapaknya zaenal di beri nama gerandong. aku tidak bohong, karena saat kenduri pemberian anam itu, bapaku juga diundang.

Gerandong sebenarnya adalah truk usang.Aku rasa ia lebih pendek dari truk pada umumnya, warnanya buluk, catnya terkelupas dimana-mana,  pintu baknya gompel, sisi baknya banyak yang bolong dan suaranya itu loh kayak mesin parut tua. Gerandong tak bisa ngebut. ia melaju seperti bayi di minggu pertamanya bisa berjalan, takut jatuh dan goyah. Namun bagi masjid minim finansial seperti masjid kami, gerandong adalah solusi karena biaya sewanya murah sekali.

Pawai segera dimulai, bedug, sound sudah dinaikan. Slamet paling sombong diantara kami. ia berani duduk di bibir bak sebelah kanan. Zaenal memilih unutk duduk di sanding bapaknya, di samping supir. Sementara aku dibawah Slamet tak berdaya untuk melihat keluar bak. aku hanya bia mengandalkan Info dari Slamte tenatng apa yang terjadi di luar.

suara takbir mengema dari sound di perkuat oleh suara tabuhan bedug yang mengetarkan jiwa.

allahu akbar , allahu akbar, allahu akbar !!!

setiap kali berpapasan dengan rombongan konvoi dari masjid lain kami saling histeris, berteriak menunjukan kehebohan kami lah yang paling keren. Memasuki perbatasan desaku dengan sukamaju, truk memasuki bulak ( deretan hutan/ semak tanpa rumah penduduk) . dan, aku merasa laju truk semakin melambat. gema takbir dari sound berhenti, pemukul bedug berhenti, semua orang menjadi diam. Perlahan aku rasakan truk oleng kekanan, maju sedikit lalau truk perlaha oleng kekiri. Perlahan sekali, sopir mengegas truk dan truk perlahan beringsut tapi kini kian miring kekiri. Aku panik karena kurasa truk akan ambruk kekiri. aku memanggil slamet untu tahu apa yang terjadi tapi dia tak menggubris. wajahnya nampak tegang sekali dan tanganya berusaha mencengkram erat bibir truk agar ia tak terjatuh.Truk menggeram seperti berusaha untuk maju namun kesulitan. Sekali lagi kurasakan truk semakin miring kekiri dan kali ini benar-benar mengerikan karena mesinya sekarang mati dan semua orang loncat keluar bak.

Apa!! tinggal aku sendiri yang ada didalam bak. Aku memang jelas tak berdaya untuk keluar. Aku tambah panik sekarang saat kulihat Slamet juga sudah melompat. Aku berterika-teriak, menangis ketakutan tapi tak ada yang peduli. Tanganku gemetar berpegang kuat pada sisi kanan bak yang kebetukan bolong. Rasanya sebentar lagi aku jatuh kekiri. Aku bisa merasakan tanganku mulai terasa lemas.

Mesin akirnya hidup kembali. Truk mulai menggerum lagi denagn keras. Kali ini perlahan tru beregrak dan kurasakan kemiingan sedikit berkurang. dengan geraman mesin yang lebih keras lagi, truk terhentak seperti baru keluar dari kubangan mengerikan. Aku sudah terlau serak untuk berteriak. Aku shock/ kaget. aku terdiam saat truk sudah kembali ke posisi normal.

orang-orang perlahan kembali masuk lagi ke bak truk. aku masih terdiam degan lutut gemetar. aku teringat ibuku .

” bu aku melok takbiran keliling yo ”

ibu aku ikut takbiran keliling ya

“ora usah ngger. koe ijek cilik mengko bahaya loh”

gak usaj nak. kamu ini masih kecil nanti bahaya lo

 ” ah ibu iki! ” aku berpaling lalu kekamar ku dengan kesuh.

Sekarang, aku sudah tak perduli lagi dengan pawai ini. Aku hanya ingin cepat pulang. sampai rumah, aku ingin memeluk ibuku. minta maaf, itulah yang ahrus kulakukan. Aku menagis terisak saat slamet medekatiku. Ia tak lagi terlihat somong seperti tapi. Ia tak duduk di bibir bak lagi. iya juga tampak shock. KAmi hanya terdiam selama sisa perjalanan pawa takbir ini.

Sekarang disinilah aku. diteras rumah ku, membaca sms slamet dan berencana untuk mengulang kesintingan masa lalu. Tapi tidak/ Ibuku sudah tidak ada. Tinggal aku , bapak dan adeku. Aku tak akan lagi meyia-nyiakan mereka. Karena sejauh apapun kita melangkah, keluarga adalah kekuatan dibelakang kita. mereka tempat yang paling logis untuk kita meletakan semua sayang kita. Pengorbanan mereka yang sungguh pikiran kita pun tak pernah bisa membayangkanya. Bodoh sekali aku tak menyadariya, menyadari bahwaaku sudah mencoba menyia-nyiakan hartaku yang paling berharga. iya hartaku yang paling berharga, keluaga.

maaf met, q mau takbran dirumah saja,adeku kayknya dah kangen sama q. Besok sajalah kt jln jlnya pake mtr barumu itu.Ok

jakarta 23 agustus 2011,

buat temen-temenku, selamat lebaran ya. temukan cinta yang luar bisa di keluarga. semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik.Aminnn


6 thoughts on “Insiden Gerandong

  1. Eh, lho? Gerandong?
    Rasanya pernah ingat kata itu dulu waktu SMP… Gerandong itu sejenis setan kalo gak salah… seperti gendruwo… Entahlah saya lupa…

    1. iya gerandong itu cucunya mak lampir mas. mak lampir sengaja mendesain keturunan setan yang ditanam kan pada tubuh wanita tapi bapaknya adalah gabungan dari setan setan jin mara kayangan. hahahah ( dulu saya maniak misteri gunung berapi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s